Kriminal

Sidang ke-4 Kasus Ahok: Blunder Kehadiran Novel FPI

Novel Chaidir Hasan Bamukmin
Novel Chaidir Hasan Bamukmin atau yang akrab disapa Habib Novel.

Jurnalindonesia.id – Sidang ke-4 kasus dugaan penistaan agama atas terdakwa Gubernur DKI non aktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), digelar tertutup pada Selasa 3 Januari 2017.

Sekretaris Jenderal DPD FPI Jakarta, Novel Chaidir Hasan Bamukmin, hadir sebagai saksi pelapor. Namun, kehadiran Habib Novel — sapaan akrab Novel Chaidir Hasan Bamukmin — justru malah menjadi blunder pihak pelapor. Sebab dari kesaksiannya ditemukan beberapa kejanggalan.

Habib Palsu

Penasehat Hukum Ahok mengajukan pertanyaan ke Novel Bamukmin, “Dalam BAP, nama anda ditulis sebagai ‘Habib Novel’, apa anda seorang habib?”

Novel menjawab, “Iya, saya habib.”

“Tapi dalam berita di Republika, 11 Oktober 2014: Ketua Umum DPP Rabithah Alawiyah, Sayyid Zen Umar bin Smith, mengatakan, Bamukmin merupakan salah satu suku yang memang berasal dari Yaman atau Hadramaut. Tetapi tidak mempunyai silsilah atau garis keturunan dari Rasulullah. ‘Novel Bamukmin itu bukan sayyid apalagi habib,’ katanya saat ditemui Republika di kantornya, Sabtu (11/10),” ungkap Penasehat Hukum seraya menunjukan print out laman Republika itu.

Novel Bamukmin tidak bisa menjawab dan tertunduk malu.

Dendam pribadi Novel terhadap Ahok

Novel Bamukmin diketahui memiliki dendam terhadap diri Ahok sebab dirinya pernah dipenjara selama 7 bulan. Penyebabnya adalah gara-gara ia memimpin demo tolak Ahok sebagai Gubernur pada Oktober 2014 lalu. Demo tersebut berakhir ricuh.

novel

Novel memaki Ahok dalam ceramahnya sebelum ada kasus video Kepulauan Seribu

Dalam Pertemuan bertajuk “Jakarta Tanpa Ahok”, yang dihadiri oleh sejumlah elemen ormas, Novel hadir selaku wakil dari FPI. Pertemuan tersebut berlangsung pada 02 September 2016 di rumah Amanah Rakyat di Jl. Cut Nyak Dien 5 Menteng Jakarta.

Dalam acara tersebut Novel sempat berorasi dan menyatakan yang isinya menyinggung Ahok.

“Ahok telah banyak melakukan kedzaliman, maka harus dilawan. Saya korban kedzaliman, kearogansian, kesombongan sekarang Ahok. Dia pemimpin yang tak punya hati nurani, tukang gusur, yang membuat kesengsaraan rakyat,” kata Novel saat itu, seperti dikutip Suara.com.

Novel juga mengecam warga yang memberikan dukungan kepada Ahok. Novel menuding pendukung Ahok adalah orang yang tak ber-Tuhan. Novel juga mengucapkan kata-kata provokatif.

‎”Yang tidak berani melawan Ahok akan masuk neraka. Salatnya, ibadahnya tidak akan diterima Tuhan. Hati-hati saudara.‎ Lawan Ahok sampai darah penghabisan, tidak usah takut,” ujar dia.

‎Novel juga mengeluarkan cacian kepada Ahok. Menurut dia Ahok adalah gubernur yang paling banyak gagalnya dan menyengsarakan warga kecil.

“Belum ada gubernur seburuk Ahok ini. Dia makan babi, minumnya air comberan, perutnya kotor,” tutur dia.

“Belum ada Gubernur Seburuk Ahok. Dia Makan Babi, Minumnya Air Comberan, Perutnya Kotor, Dia Haram,” kata Novel dalam orasi tersebut. Dalam orasinya itu Novel juga menyampaikan kata – kata Provokatif yang isinya “Yang tidak berani lawan Ahok akan masuk neraka. Salatnya, ibadahnya tidak akan diterima Tuhan. Lawan Ahok sampai darah penghabisan, tidak usah takut.”

Tidak Menonton Video Ahok Versi Utuh

Dalam fakta persidangan sesuai BAP saksi tertanggal 16 Nopember 2017, pada saat ditanyakan oleh Majelis Hakim bahwa saksi melihat video dari whatsapp yang isinya “jangan mau dibohongi pakai surat Al Maidah 51 macam – macam itu ..” menunjukkan bahwa saksi tidak mengetahui dengan pasti dan jelas terkait kebenaran isi pidato Ahok di Kepulauan Seribu lantaran isi pidato yang disampaikan oleh saksi tidak lengkap.

Laporan hanya berdasar asumsi pribadi

Di dalam fakta persidangan terungkap bahwa saksi melakukan laporan sebelum adanya Pendapat dan Sikap Keagamaan dari MUI (yang menurut saksi adalah fatwa), dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada saat melakukan pelaporan Saksi hanya menyimpulkan dan berdasarkan asusmsi pribadi bahwa Ahok telah menistakan agama, di sini jelas atas sikap ketidaksukaan dan kebencian saksi terhadap Basuki Tjahaja Purnama sedari awal padahal seharusnya sebelum melakukan laporan haruslah melakukan Tabayyun (klarifikasi) terlebih dahulu kepada Basuki Tjahaja Purnama.

Mengaku Membenci Ahok

Di dalam fakta persidangan terungkap bahwa pada saat Penasihat Hukum dari Basuki Tjahaja Purnama yaitu Dr. Humphrey R. Djemat,S.H.,LL.M.,FCB.ARB, menanyakan saksi Novel mengakui memang telah lebih dulu memilki sikap tidak suka dan kebencian terhadap Basuki Tjahaja Purnama.

Mengatasnamakan Umat Islam se-Indonesia

Di dalam BAP Saksi Novel pada tanggal 16 Nopember 2016, pada poin 13 ditanyakan oleh Penyidik, “Atas kehendak siapa saudara melaporkan kejadian tersebut?” Dan dijawab, “pelaporan tersebut atas kehendak umat Islam se–Indonesia.”

Atas hal tersebut menjadi pertanyaan bagi Tim Penasihat Hukum, Pelaporan tersebut atas kehendak dan mewakili umat Islam yang mana? Karena apabila mewakili pada prinsipnya harus ada Surat Kuasa terhadap Para Saksi Pelapor sedangkan dalam perkara ini tidak ada Surat Kuasa untuk mewakili siapa namun hanya laporan pribadi-pribadi, dan apabila dikatakan kehendak dan mewakili umat Islam sedangkan OKI sendiri sebagai Organisasi Islam yang Besar tidak mengakui hal tersebut.

Tidak melakukan klarifikasi (Tabayyun) ke Ahok

Di dalam fakta persidangan yang bersesuaian dengan BAP Saksi Novel pada tanggal 21 Nopember 2016 terungkap, pada poin 4 ditanyakan oleh Penyidik “apakah saudara sudah melakukan diskusi dengan para Ulama? Kalau sudah, dengan Ulama mana saja dan dalam kapsitas saudara sebagai apa?”

Novel menjawab, “Ya, saya sudah ber-tabayyun dengan para Ulama yang lainnya, sebelum melaporkan Sdr. Basuki Tjahaja Purnama, diantaranya dengan KH. Mahfuz Thoyib.”

Menurut Novel, Tabayyun Bisa Tebang Pilih alias Pilih-Pilih Orang

Kembali menjadi Pertanyaan Besar bagi Tim Penasihat Hukum, Mengapa tidak dilakukan proses Tabayyun (klarifikasi) secara langsung terhadap Basuki Tjahaja Purnama sehingga tidak menimbulkan fitnah kepada Basuki Tjahaja Purnama.

Di sini terlihat jelas adanya tebang pilih dalam proses Tabayyun khususnya pada perkara Ahok, yang kemudian dibenarkan oleh saksi bahwa terhadap Basuki Tjahaja Purnama tidak perlu tabayyun karena tabayyun boleh pilih-pilih orang.

Semua Saksi Pelapor Tidak Ada dari Kepulauan Seribu dan Menonton dari versi Editan Buni Yani

Bahwa terhadap keterangan Para Saksi Pelapor dalam BAP telah jelas dari semua Pelapor tidak satu pun yang melihat secara langsung pidato Basuki Tjahaja Purnama pada tanggal 27 September 2016 di Pulau Pramuka Kepulauan Seribu, namun hanya berdasarkan informasi dari orang yang kemudian mendengar dan melihat dari unggahan video di Youtube dan atas unggahan tersebut diduga unggahan yang telah dibuat komentar sedemikian rupa oleh Buni Yani sehingga memiliki makna dan arti berbeda yang kemudian menjadi viral di masyarakat dan menjadi fitnah bagi Basuki Tjahaja Purnama kemudian menjadi alat untuk mengkriminalisasi Basuki Tjahaja Purnama.

Kasus Ahok adalah Kejahatan yang Direkayasa

Berdasarkan keterangan saksi-saksi di atas, nampak adanya unsur kejahatan yang direkayasa (crime engineering) oleh para pelapornya yang jelas-jelas memiliki ketidaksukaan dan dendam pribadi terhadap Ahok.

 

Komentar Facebook

You Might Also Like