Politik

Buatan China Dibeli Tahun 2008, Ini Spesifikasi Meriam yang Tewaskan Prajurit TNI

Meriam Giant Bow
Meriam Giant Bow, (Foto: RMOL)

Meriam jenis giant bow menjadi salah satu alat utama sistem senjata (Alutsista) yang diturunkan dalam latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) TNI di Natuna, Kepulauan Riau. Rencananya, Presiden Joko Widodo akan menyaksikan gladi bersih demonstrasi latihan PPRC tersebut pada 19 Mei mendatang.

Namun tiba-tiba insiden memilukan terjadi, dalam latihan pendahuluan, Rabu (17/5), meriam ini mengalami kerusakan dan meledak hingga menyebabkan empat prajurit TNI AD meninggal dunia. (Baca: Meriam Meledak, 4 TNI Tewas Saat Latihan PPRC di Natuna)

Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Mulyono menjelaskan, meriam yang meledak dalam tersebut merupakan buatan China.

China adalah salah satu negara penyuplai penting untuk alat pertahanan di Indonesia, termasuk meriam giant bow ini.

Meriam Giant Bow

Meriam Giant Bow, (Foto: istimewa)

Spesifikasi meriam Giant Bow

Giant bow merupakan senjata efektif untuk melawan sasaran udara yang terbang rendah. Selain itu, meriam tersebut juga memberikan aplikasi pengoperasian pertahanan udara dengan mobilitas tinggi.

Meriam dengan berat total sekitar 1.250 kg ini sering disebut sebagai Si Panah Raksasa dan merupakan milik TNI AD. Giant bow dikategorikan sebagai twin gun sebab memiliki laras ganda kaliber kecil 23 mm.

Kecepatan luncur proyektil giant bow mencapai 970 meter per detik. Sedangkan untuk jarak tembak, untuk sudut vertikal maksimum 1.500 meter dan sudut horizontal maksimum 2.000 meter.

Meriam Giant Bow, (Foto: istimewa)

Ada tiga mode pengoperasian giant bow yakni mode otomatis penuh, mode semi otomatis dan mode manual yang dikendalikan awak meriam. Giant bow dapat dioperasikan secara terpadu lewat kendaraan Battery Command & Control Vehicle (BCCV).

Giant bow memiliki sudut putar 360 derajat. Sedangkan sudut elevasi laras dengan sistem manual yakni -5 sampai 90 derajat dan elevasi laras dengan sistem elektrik mulai dari -3 sampai 90 derajat.

Untuk menjatuhkan pesawat terbang rendah, 1.5000-2.000 proyektil dapat dimuntahkan dalam satu menit. Selain itu, giant bow juga dapat menjatuhkan berbagai jenis helikopter tempur dan pesawat. Sejumlah jenis tank juga mampu ditembus seperti Scorpion dan Tarantula.

Tanggapan DPR

Komisi I DPR mengaku prihatin atas insiden meledaknya meriam tersebut. Wakil Ketua Komisi I, Tubagus Hasanuddin mengatakan, kecelakaan ini menarik perhatian, karena di samping menelan korban jiwa, juga meriam yang mengalami kerusakan itu bukan termasuk barang tua.

Menurutnya, penggunaan senjata yang berumur hingga 50 tahun masih lazim digunakan oleh TNI AD.

“Senjata ini cukup baru. Senjata Giant Bow itu produk China. Masuk ke Indonesia kalau tidak salah tahun 2008. Dibeli oleh TNI, ditempatkan di batalion artileri pertahanan udara Kostrad,” ucap Hasanuddin ketika ditemui di Gedung DPR, Kamis 18 Mei 2017.

Komisi I pun telah memohon untuk dilaksanakan investigasi atas penyebab kecelakaan tersebut. Hasanuddin juga meminta TNI Angkatan Darat bisa menjelaskan hasil investigasi ke Komisi I dalam suatu rapat kerja mendatang.

“Kami akan meminta untuk menjelaskannya di Komisi I, kepada TNI khususnya TNI AD. Mengapa sebab-sebab itu, nanti hasilnya seperti apa, ya kami lakukan sebuah keputusan yang terbaik,” ujar mantan jenderal itu.

“Jadi kalau disebut usang memang belum lah. Masih layak, atau menurut hemat saya, sangat layak untuk ukuran baru tujuh tahun,” kata Hasanuddin.

TNI AD sendiri saat ini sedang melakukan investigasi terkait kecelakaan tersebut.

 

Artikel Lain