Nasional

BNPT: 60 Persen Khatib Jumat di Jakarta Syiarkan Ujaran Kebencian

Ilustrasi: kubah masjid

Peneliti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Mas’ud Halimin mengatakan, masjid yang merupakan pusat dakwah pemersatu umat muslim akhir-akhir ini mulai di semarakkan dengan ujaran kebencian.

Fakta tersebut ia temukan saat dirinya diminta memperbaiki manajemen masjid di sebuah pusat perbelanjaan di bilangan Jakarta Pusat. Menurutnya data yang ia temukan tersebut cukup mengkhawatirkan.

“Saya disodorkan data khatib Jumat, dan ternyata hampir 60 persen khatib tersebut bicara ajaran agama yang tidak mendamaikan di atas mimbar masjid,” kata Ma’sud saat menghadiri Dialog Kebangsaan: Peran Takmir Masjid dalam Menangkal Radikalisme di Kantor Walikota Jakarta Timur, Rabu 14 Juni 2017.

Kalau dihitung terdapat 3.047 masjid di DKI Jakarta. Jika semua masjid itu digunakan untuk shalat Jumat, maka ada sekitar 9.000 khatib yang ceramah tiap Jumatnya. “Berapa banyak yang memberikan ceramah berkualitas?” imbuh dia.

Peneliti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Mas'ud Halimin

Peneliti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Mas’ud Halimin (tengah batik ungu). (Foto: MTVN/Faisal Abdalla).

Menurutnya, itu terjadi disebabkan mayoritas takmir masjid tidak mengatur jadwal khatib serta tema ceramah. Dengan demikian khatib bisa ceramah apa saja yang dikehendakinya.

Untuk mengantisipasi hal itu terus berlanjut, Mas’ud mengimbau kepada para takmir agar lebih cermat dalam menjadwal khatib untuk solat jumat.

“Para takmir harusnya bisa menjadwal khatib dan menyusun tema yang ingin dibicarakan. Jangan serba mendadak. Khatib untuk jumat baru dihubungi Kamis, kalau begitu kan tidak bisa dikontrol dia ngomong apa di atas mimbar,” tegas Mas’ud.

Oleh karena itu ia mengaku sangat mendukung program edukasi untuk para takmir yang digalakkan oleh Lembaga Takmir Masjid-NU cabang Jakarta Timur.

Baca: JK Bantah 60 Persen Khatib di DKI Syiarkan Ujaran Kebencian

 

Artikel Lain