Kriminal

Beredar Hoax Berita Nusron di Detik News

Berita hoax tentang Nusron di detikcom
Berita hoax tentang Nusron di detikcom

Tangan-tangan jahil penebar kebohongan masih saja berseliweran di dunia maya meskipun Presiden, Kapolri sampai Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah angkat bicara melarang keras penyebaran berita bohong atau fitnah di media sosial.

Akhir-akhir ini, lini masa media sosial begitu penuh dengan informasi-informasi yang tak jelas ujung pangkalnya. Di antara informasi-informasi itu, ada yang memiliki tingkat keisengan sedemikian serius. Bagaimana tidak, ada pihak yang dengan sengaja mendesain, atau mengubah desain, suatu tampilan sedemikian rupa sehingga kabar bohong yang mereka sebarkan seolah-olah nyata dan bersumber dari situs berita kredibel.

Detikcom pun tidak luput menjadi korban tangan-tangan jahil tersebut.

Pada awal November, berita detikcom di-screenshot, diedit menjadi provokatif, lalu disebar di media sosial. Kekuatan kredibilitas detikcom disalahgunakan untuk memancing kemarahan publik. (Akun @TweetParpol Spesialisasi Edit Berita untuk Di-Hoax-kan)

Dan kini kejadian serupa terulang.

Pada Selasa (29/11) sore hingga malam hari, beredar di media sosial dan pesan berantai mengenai suatu gambar hasil capture-an situs dengan tulisan ‘detiknews’ di bagian atas. Warna font dan tampilan dalam gambar tersebut memang sekilas mirip dengan kanal detiknews. Yang mencengangkan adalah di dalam gambar tersebut tercantum judul berita ‘Nusron Wahid: Kalau Peserta Aksi 212 Lebih dari Seribu Orang Ludahi Muka Saya’.

Kami memastikan judul dan konten dalam gambar tersebut bukanlah produk berita dari redaksi detikcom. Nusron Wahid juga memastikan tidak pernah menyampaikan hal tersebut dalam kesempatan apapun.

“Alhamdulillah. Allah memberikan ujian kesabaran lagi kepada saya, dengan viral berita hoax ini. Semoga diampuni Allah,” ujar Nusron melalui akun Twitter miliknya, Selasa malam.

Nusron mengatakan gambar berisi berita bohong tersebut memberikan fitnah ke dua pihak sekaligus. Dia dan redaksi detikcom.

“Redaksi detik pun sudah saya kontak dan menyatakan tidak pernah menulis berita tersebut. Double fitnah. Saya dan detik jadi korban. Semoga diampuni dosa-dosa saya,” kata Nusron.

Pembaca, jangan percaya capture gambar yang tidak disertai link detikcom. Tanpa link yang langsung ke www.detik.com, berita-berita provokatif yang disebar di media sosial kemungkinan besar adalah berita bohong.

detikcom sebagai media online paling berpengaruh, dengan jumlah pembaca per hari mencapai 50 juta pageviews, memegang teguh kode etik jurnalistik, sehingga tidak akan pernah membuat berita-berita provokatif yang menebar kebencian dan berpotensi memecah belah bangsa seperti yang dilarang dalam kode etik jurnalistik.

Akhir kata pada para pembaca, penebar dusta masih bertebaran di dunia maya. Seleksilah setiap informasi yang ada dari pesan berantai atau lini masa dengan seksama.

Komentar Facebook

You Might Also Like