Pendidikan

Afi Kembali Lakukan Plagiat Pada Tulisan ‘Warung Makan’

Afi Nihaya Faradisa
Afi Nihaya Faradisa

Penulis remaja Afi Nihaya Faradisa mengibaratkan media sosial (medsos) bagaikan warung makan dimana di situ terdapat berbagai macam menu, dan pengunjung bisa memilih menu sesuai seleranya, tanpa ada pemaksaan.

“Jika Anda memiliki keluhan atas sebuah masakan, lawan dengan masakan lain. Buktikan masakan Anda lebih layak santap. Jangan hanya bisa bercuap-cuap saja namun miskin etika,” tulis Afi.

Pernyataan tersebut Afi tulis dalam artikel terbarunya berjudul ‘Warung Makan. Dalam sehari sejak diunggah, artikel yang diposting di akun Facebook miliknya itu telah dibagikan hampir seribu kali dan mendapat reaksi lebih 15 ribu dari pengguna Facebook lainnya.

Namun lagi-lagi tulisan tersebut diketahui menjiplak dari tulisan lain. Tulisan Afi tersebut sama persis dengan yang pernah diposting oleh akun Facebook Lembaga Perlindungan Konsumen CELEBES.

Lembaga Perlindungan Konsumen CELEBES memposting tulisan tersebut satu tahun yang lalu, yakni pada 31 Desember 2016.

Berikut screenshot tulisan dari Lembaga Perlindungan Konsumen CELEBES tersebut:

Dan bandingkan dengan tulisan Afi berjudul Warung Makan berikut ini:

WARUNG MAKAN

Oleh Afi Nihaya Faradisa

Media sosial bagaikan warung makan. Banyak ragam menu tersedia di sana. Tidak ada yang memaksa Anda harus membeli rendang kalau Anda tidak suka. Tidak ada yang akan memaksa Anda untuk membayar nasi goreng jika Anda merasa tidak memesannya. Persis seperti karma, sajian di sana hanya terhidang sesuai yang Anda pesan saja.

Nah, jika Anda tidak menyukai sate, haruskah Anda datang ke warung sate, mengacak-acak meja, sambil berteriak “Tutup warung ini sekarang juga!” ?

Anda dibebaskan memilih mana warung yang ingin Anda datangi sebagaimana Anda dibebaskan untuk memilih akun mana saja yang ingin Anda ikuti. Sesederhana itu, tanpa perlu Anda berteriak-teriak kesetanan “Hey aku tidak suka menu di warungmu!”

Seperti di warung makan, di media sosial tidak ada pendukung dan pembenci, yang ada hanya pengunjung dan bukan pengunjung.

Di media sosial ini tidak ada kolom daftar ‘haters’ dan ‘lovers’, yang ada hanyalah kolom daftar ‘followers’. Suka atau tidak suka, semua jadi satu di sana. Suka atau tidak suka, Anda semua sama-sama menikmati menu yang tersaji, hobi mengunjungi, serta rajin memperhatikan orang yang diikuti.

Jika Anda memiliki keluhan atas sebuah masakan, lawan dengan masakan lain. Buktikan masakan Anda lebih layak santap. Jangan hanya bisa bercuap-cuap saja namun miskin etika. Semua orang dewasa tahu bagaimana cara yang elegan untuk berkompetisi dengan masakan yang Anda anggap kurang sedap.

Rasa suatu masakan tidak ada hubungannya dengan komentar orang sekitar. Komentar itu sifatnya sangat subyektif; barangkali Anda pecinta jengkol namun membenci pizza. Sebaliknya, ada juga pembenci jengkol namun keranjingan masakan ala Eropa.

Masakan saya belum tentu cocok dengan selera lidah Anda. Selera Anda jangan dipaksa menjadi tolok ukur seberapa lezat masakan saya.

Mungkin Anda akan tetap bersikeras untuk berkata bahwa seberapa lezat masakan saya adalah apa yang Anda pikirkan tentangnya.

Lantas saya peduli? Nehi. Karena masakan seseorang tak sesempit itu untuk dimaknai.

Foto: Facebook Afi

 

Artikel Lain